Sekolah Untuk Remaja Hamil, Solusi Pendidikan Untuk Mencegah Aborsi Remaja

Sekolah Untuk Remaja Hamil, Solusi Pendidikan Untuk Mencegah Aborsi Remaja


Pemerintah Negara Bagian Malaka, Malaysia, merencanakan sekolah khusus untuk para siswa yang sedang mengandung. Menteri Kepala Negara Bagian Malaka, Bagian, Mohamad Ali Rustam, kepada BBC Indonesia menjelaskan pada prinsipnya dia ingin mencegah hubungan di luar nikah di kalangan remaja.

Menurutnya agama Islam tidak membenarkan aborsi namun ada remaja perempuan yang tidak punya pilihan sehingga terpaksa melakukan aborsi. Intinya adalah agar para remaja, sekalipun sudah mengandung, masih tetap bisa bersekolah.

Namun Mohamad Ali Rustam menegaskan sebenarnya pembinaan pendidikan merupakan tahap kedua dalam programnya.

"Nomor satu, benarkan murid-murid muda kawin, jadi kalau tidak ada uang saya sponsor RM 500. Bila sudah menikah tentu dia mengandung bukan. Jadi kalau sudah mengandung, sekolah terima atau tidak? Sepatutnya sekolah menerima ibu mengandung."

"Kasus lain yang sudah mengandung tapi tidak menikah, sekarang ini apa yang berlaku ibunya tidak suka, masyarakat tidak suka tapi sudah mengandung, boyfriend lari, jadi dibuanglah anaknya kan".




Apa pendapat anda?
Apakah model itu perlu juga dipertimbangkan untuk diperlakukan di Indonesia?

Jika anda setuju, jelaskan apa alasannya dan juga apa alasan anda untuk tidak setuju mengikuti rencana model sekolah untuk ibu mengandung tersebut.

Seperti biasa ramaikan Forum BBC Indonesia, yang disiarkan setiap Kamis Pukul 18.00 WIB dan Senin Pukul 05.00 WIB.
Ragam pendapat

"Saya setuju sebab belum tentu remaja tersebut hamil sebagai hasil kesengajaan. Mereka juga perlu pendidikan dan dukungan agar bisa tegar kembali. Tapi jangan lupa diperbanyak mata pelajaran tentang agama agar moral mereka bisa berubah." Nyslee, Jakarta.

"Sangat disayangkan dengan beberapa komentar yang mengatai remaja yang hamir di luar nikah sebagai penzinah. Lebih baik dirangkul, bukannya dicaci. Masalah dosa adalah urusan pribadi." Lucia.

"Manusia tak akan pernah luput dari dosa serta tak akan memikul dosa orang lain. Oleh karena itu, memang diperlukan lembaga yang menaungi mereka. Apapun alasannya, mereka tetap generasi penerus bangsa yang harus diselamatkan. Dan yang terpenting adalah pendidikan ahlak lebih diperioritaskan dalam metode pendidikannya." Sutrisno Mulyo, Kediri.

"Diskriminatif. Tindakan ini akan hanya mengucilkan para remaja yang hamil dan membuat mereka semakin mendapatkan tekanan mental. Dan juga tidak ada urgensi yang jelas dalam pembangunan ini." Adhi, Denpasar.

"Kondisi apapun, hamil atau tidak, sebagai warga negara wajib mendapatkan pendidikan yang layak, lepas dari kelalaian yang dia pernah perbuat." Dedot Gmc, komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Remaja kawin gelap, belum menikah, tetap dia manusia. Hanya saat ini terjadi musibah dalam dirinya. Sewajarlah negara tetap memperlakukan sama dengan warga masyarakat lain, tidak dibedakan, karena manusia semua miliki dosa yang sama di hadapanNya." Wolter Soesilo, Jakarta.

"Saya berpendapat itu baik untuk mengejar ketinggalan karena dia hamil jadi jangan karena dia hamil kemudian tidak meneruskan pendidikan." Dwi Adietya, komunitas BBC Indonesia di Facebook.

Menurut saya pengawasan keluarga dan pendidikan agama yang lebih penting. Kalau remaja hamil ada yang nampung, itu bukan solusi walaupun kita wajib menyelamatkan keduanya. (Mihaf, Riyadh).

"Menurut saya pengawasan keluarga dan pendidikan agama yang lebih penting. Kalau remaja hamil ada yang nampung, itu bukan solusi walaupun kita wajib menyelamatkan keduanya." Mihaf, Riyadh.

"Tidak setuju, apalagi diterapkan di Indonesia. Kultur indonesia yang mengharuskan nikah di usia muda itu saja membuat jumlah penduduk, jika ditambah dengan aturan seperti itu pasti tambah membengkak. Jika dikaitkan dengan ketakutan hamil di luar nikah, tugas orang tua yang membimbing anak-anaknya untuk tidak seperti itu." Saras, Jember.

"Ide ini sangat manusiawi dan saya sangat mendukungnya. Saya yakin tidak ada perempuan muda yang mau hamil di luar nikah yang sanksi sosialnya sangat berat. Sekolah semacam ini kalaupun berusaha diadakan harus dikemas sebaik mungkin sehingga menghindari kesan menjadi pemaaf atau sekedar penampung mereka yang memang nakal. Kurikulum, Sarana belajar dan pengajarnya harus bertujuan baik untuk kemuliaan si bayi yang tak berdosa dan ibu yang mengandungnya. Kalau di Indonesia kayaknya sulit utk dilembagakan." Khairul Azmi, Sumbawa Barat-NTB.

"Tidak setuju karena sama saja dengan melegalkan perzinahan. Lebih baik di sekolah itu di buat mata pelajaran Budi Pekerti dan juga pendidikan sekssual agar para peLajar mendapatkan info tentang seks dan akibat yang akan didapatkan secara jelas dan lengkap." Rahmat Simbolon, Subulussalam.

"Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan,tapi budaya kita masih menganggap tabu hamil saat remaja, apalagi di luar nikah. Beban hidup mereka sudah cukup berat, jadi tidak perlu menambah satu beban lagi. Beri mereka kesempatan. Tapi tentu harus ada peraturan yang jelas dan tegas untuk menimbulkan efek jera." Zahra Ar Raja', komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Ide yang bagus dan patut ditiru oleh Indonesia mengingat di Indonesia kasus seperti itu banyak sekali. Di sekolah itu juga bisa di ajarkan cara menjadi orang tua yang baik, suami istri yang baik, pengsuhan anak dan lain-lain yang berhubungan dengan keluarga agar nantinya mencegah penceraian keluarga muda." Didi, Madiun.

"Menurut pendapat saya, masa depan adalah hak paling mendasar bagi setiap orang, sehingga apa pun yang terjadi, kesempatan untuk menjadi manusia yang berguna dan berarti tidak dapat dilenyapkan." Rahmawati Eriyadini, komunitas BBC Indonesia di Facebook.

"Kalau hamilnya resmi melalui pernikahan ngapain mesti malu ke sekolah umum. Sangkin banyaknya remaja yang hamil di luar nikah, pemerintah harus mengeluarkan biaya untuk membangun sekolah bagi para penzinah tersebut. Silakan saja, tapi ini bukan solusi." Yusal Piansyah, komunitas BBC Indonesia di Facebook.


Ref: bbc.co.uk



Ditulis Oleh : Penilai Artikel Hari: 2:01:00 AM Kategori:

1 komentar:

Anonymous said...

saya setuju, karna tidak selamanya yang hamil itu adalah manusia penzina. bisa saja dia adalah korban pemerkosaan. jadi, hal ini adalah satu cara menjaga mental dan spritual bagi remaja yang hamil. sebab dia masih punya hak dihargai sebagai manusia.