Lampu Hemat Energi Karya Mahasiswa ITB

- Lampu Hemat Energi

Sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Bandung, ITB, mengembangkan lampu hemat energi dengan menggunakan light emitting diode, LED.

Lampu yang dikembangkan Ichwan Kurniawan, Fadolly Ardin, dan Fela Rizki Wardana ini membawa mereka menjadi juara ITB Entrepreneurship Challenge tahun ini.

"Cara yang kami gunakan adalah prinsip pemindaian, lampu yang kami buat dengan menggunakan lampu LED, terlihat menyala semua, tapi sebenarnya menyala secara bergantian. Dengan hanya satu LED saja yang menyala, daya listrik yang diserap jauh lebih hemat," kata Fadolly.

Dengan daya hanya 3 Watt, lampu tersebut sebenarnya memiliki daya terang sama dengan 100 Watt.

Biaya pembuatan lampu yang mereka sebut lampu Ganesha itu sekitar Rp. 100.000 dan perkiraan penjualan di pasar Rp. 40.000 untuk produksi masal.

Namun para mahasiswa ini masih terus melakukan penelitian untuk menetapkan bentuk lampu dan menguji ketahanannya.

"Saat ini kami tengah melakukan riset pengujian ketahanan dan juga keamanannya," kata Ichwan Kurniawan.



Teknologi lampu dengan menggunakan LED, menurut Budi Raharjo, dosen sekolah teknik dan informatika ITB, selain hemat energi juga lebih handal.

"Lampu dengan menggunakan LED dapat kita lihat melalui iklan di jalan-jalan, dan juga sering dipakai petugas di jalan raya. Lampu lalu lintas, misalnya, kalau menggunakan satu bohlam, bila mati satu, mati semua, tetapi bila memakai LED, mati satu, dapat menggunakan yang lain. Jadi kehandalannya juga lebih baik," kata Budi.

- Konsumsi meningkat

Budi Rahardjo juga mengatakan potensi lampu hemat energi di Indonesia sangat besar namun masih memerlukan pengembangan lebih lanjut dari sisi desain dan ketahanan sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

"Persaingan akan datang dari perusahaan besar, namun untuk pasar-pasar yang lebih kecil dan belum terjamah perusahaan besar, dapat dikejar oleh apa yang dikembangkan para mahasiswa," kata Budi.

"Saya membayangkan pasar untuk lampu penerangan yang dibutuhkan oleh penjual kaki lima, misalnya. Ini merupakan pasar yang besar juga," tambahnya.

Sementara itu, John Manopo -Ketua Asosiasi Industri Perlampuan Indonesia- mengatakan konsumsi lampu hemat energi di Indonesia meningkat sekitar 20% per tahun.

"Konsumsinya kurang lebih 200 juta unit satu tahun, karena konsumen PLN ada 36 juta. Jadi kalau satu rumah pakai lima titik lampu saja, konsumsi sudah 180 juta," kata John.

Ia mengatakan dibandingkan lampu pijar 40 Watt, lampu hemat energi menggunakan daya delapan Watt, dengan penghematan sekitar 32 Watt per titik lampu.

Namun ia mengatakan dari produksi lampu hemat energi Indonesia, baru 15% yang diproduksi di dalam negeri, sementara selebihnya impor, terutama dari Cina.


(Ref: BBC Indonesia)



Ditulis Oleh : Penilai Artikel Hari: 2:46:00 AM Kategori:

0 komentar: