25 Perampokan Besar di Indonesia dalam Beberapa Bulan Ini

Dalam beberapa bulan terakhir, kasus perampokan bersenjata api di Tanah Air terlihat makin meningkat. Sejak Juni hingga pertengahan Agustus 2010 terjadi lebih dari 25 kasus perampokan besar dengan menggunakan senjata api.



Perampokan yang terjadi bukan seperti perampokan konvensional, yakni sekelompok orang bersenjata tajam masuk ke dalam rumah dan mengambil barang berharga. Namun, perampokan yang terjadi akhir-akhir ini adalah perampokan bank, toko emas, koperasi simpan pinjam, dealer mobil, dan juga pegadaian.

Jumlah yang dirampok juga tidak tanggung-tanggung. Berikut wbw cuplikkan buat kamu:

1. Pada perampokan di dealer mobil di Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, 17 Juni lalu, empat mobil dibawa kabur oleh delapan laki-laki bersenjata api. Nilai kerugian tercatat Rp 750 juta.

2. Di Kantor Pegadaian Cabang Patriot, Bekasi, emas seberat 2 kilogram dan uang Rp 32 juta dibawa kabur perampok yang berpura-pura sebagai nasabah, 26 Juni.

3. Sekelompok perampok juga menggondol uang Rp 675 juta dari Bank UOB Samarinda, Kalimantan Timur, 7 Juli.

4. Sementara dari Koperasi Simpan Pinjam Intidana, Pedurungan, Semarang, perampok membawa kabur uang Rp 200 juta, 18 Agustus lalu.

Dan masih banyak kasus perampokan lainnya....

- Penyebab Perampokan

Meningkatnya perampokan berskala besar ini bisa disebabkan banyak hal. Menurut Kepala Satuan Sabhara Polresta Malang Ajun Komisaris Susanto, jika merujuk kalender keamanan dan ketertiban masyarakat, setiap tahun menjelang Lebaran toko emas dan bank rawan menjadi sasaran perampokan.

Sementara itu, Erlangga Masdiana, kriminolog Universitas Indonesia, mengatakan, tindak kriminalitas yang belakangan makin nekat merupakan cermin dari kondisi sosial dan ekonomi yang makin memprihatinkan. Akses rakyat terhadap berbagai kesempatan untuk hidup lebih layak makin sempit. Akses itu hanya dinikmati kalangan elite, yang justru cenderung tidak sensitif menyikapi situasi sosial.

”Dalam kriminologi, hal ini diistilahkan dengan blocked opportunity, di mana segala akses bagi orang kecil semakin tertutup, sementara negara mengabaikan kebutuhan mereka. Sebaliknya, kalangan elite justru cenderung makin demonstratif,” ujar Erlangga, Minggu.

Kondisi makin diperparah karena tontonan yang diperlihatkan sehari-hari dalam tayangan televisi telah menumbuhkan impian bagi kelompok yang terpinggirkan secara ekonomi.

”Cara termudah untuk meraih impian itu adalah merampok. Dengan risiko hukuman yang sama dengan kriminalitas lain, tetapi hasil yang lebih besar, akhirnya orang memilih merampok,” lanjut Erlangga.

Praktik perampokan itu makin mudah karena saat ini peredaran senjata api gelap semakin marak. Dengan memiliki senjata api, perampok semakin berani, dan nyawa petugas keamanan pun semakin terancam.

Pada perampokan di Bank CIMB Niaga di Medan, Rabu, seorang anggota polisi tewas diberondong senjata api laras panjang jenis AK-46 dan AK-47 yang dibawa 16 perampok.

Senada dengan Erlangga, dosen Kriminologi dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Nursariani Simatupang, mengatakan, senjata ilegal mudah didapat karena berasal dari daerah konflik dan kondisi wilayah perairan Indonesia yang sangat luas. Dengan demikian, polisi sebaiknya mewaspadai peredaran senjata gelap demi keamanan masyarakat dan petugas sendiri.


(Ref: Kompas)



Ditulis Oleh : Wahyu Winoto, S.Pd. Hari: 2:02:00 AM Kategori:

0 komentar: