Cerita Pendek; Talk About Ocean (Part 1)

Dulu ketika Nusantara dikenal memiliki skuad armada laut yang tangguh dan terkenal di dunia. Di era kecemasan Sriwijaya, hingga Patih Gajahmada dengan kekuasaannya yang luas nan digdaya membayang dalam pikiran sesosok pemuda yang sedang berjalan menuju sebuah majelis. Seorang bocah berusia 20-an yang kebetulan hendak mendatangi di suatu perbincangan pada forum nasional di kota Gudeg, dengan ekspektasi mendapatkan sebuah definisi, konsep, kerangka pemikiran baru dari para pembicara yang memang ia kenal bukan orang dari sini..which means from other countries and dengan tingkat pendidikan yang bukan hanya selevel sarjana, ia bisa lihat dari deretan huruf di depan dan dibelakang namanya meski bagi sebagian orang awam…itu hanyalah huruf-huruf tanpa makna. Apalah Ph.D, Prof, M.Sc, DEA, DESS…ato akronim-akronim unik yang hanya bsa diperoleh orang-orang yang menghabiskan banyak waktu dan usianya di sekolah, meski ada pula hasil pemberian para pakar kepada seseorang karena sumbangsihnya pada dunia keilmuan… meskipun pemuda itu sendiri masih berpikir hal-hal semacam itu bukanlah sesuatu yang ia cari. “That’s just a matter of blood and connections..” he said that in mind.

Sejak pemuda itu datang, memang dia berniat untuk menelaah. Apa yang hendak dipelajari dari seorang lulusan Amerika, Perancis, dan lulusan Bulaksumur..haha. Pagi itu dia datang dengan sangat segar…agak aneh pemuda itu karena sepanjang jalan kerjaannya hanya senyum-senyum pada setiap orang yang berpapasan dengannya. Meskipun jarang sekali bocah itu menyisir rambutnya. Tapi dengan topi butut yang ia temukan jatuh di pinggir selokan jalan Kaliurang, sedikitlah menutupi ketidakrapiannya itu meski alasan sebenarnya adalah rambutnya yang terlalu kaku untuk diatur meski menggunakan produk salon mahal dengan merek terkenal. Dan soal senyum itu pun setelah dikonfirmasi, dia peroleh dari seorang Ustad yang kebetulan mendalami Psikologi, specifically bidang NLP dan juga telah mengikuti training Anthony Robbins…(somebody must be know who he is, right?), dimana ia mencoba membangkitkan pikiran positive sehingga apa yang dia lihat menjadi suatu hal yang membantu dia merasakan kedamaian dan kenyamanan, hingga arus electron di otak bekerja optimal untuk menghasilkan ide-ide dan pemikiran brilian! Itu kata dia. Selain itu juga dalam agama “senyum” merupakan shadaqah murah meriah…karena ia cukup sadar lembaran di dompetnya tak cukup banyak untuk diberikan kepada kaum papa yang ditemuinya sepanjang perjalanan, plus sebagai alasan kuat baginya untuk berjalan kaki pada pagi itu, yang biasanya ia tempuh dengan moda transportasi massal yang sejak seminggu terakhir mengalami kenaikan harga.

Selama 30 menit berjalan di trotoar yang cukup sempit, yang tentunya berbeda dengan Kota-kota di Eropa yang telah mengakomodir para pedestrian dan memberikan mereka privilege untuk dapat dengan nyaman berjalan menuju pusat-pusat kegiatan ekonomi, sebut saja London, Amsterdam, Munich, ataupun Kuala Lumpur yang barangkali telah menempatkan konsep CityWalk untuk memanjakan para pejalan kaki dan barangkali sebagai manifestasi, katakanlah dari hasil UNFCCC (ato konferensi perubahan iklim) yang seharusnya mengubah paradigma pembangunan kota di negara Indonesia, yang mestinya lebih hijau dan mengakomodir para pejalan kaki, pengguna sepeda dan mode transportasi tak bermesin lainnya. Sambil membayangkan dirinya berjalan di kota Roma sekedar berkunjung Gereja Basilica dan menikmati karya Bernini, dan juga Rafael hingga akhirnya sampai di Stadion Olimpico mengantri karcis untuk menyaksikan Grande Partita antara Giallorosi (AS Roma) melawan Bianconeri (AC Milan) di minggu sore yang cerah, sambil menggigit Pizza dan Wingko Babad…. That was truly amazing…but now, he has spent his time to walked for 15 minutes until he come to the conference building. Sesampainya disana, dia tahu harus kemana. Ruang pojok, yakni toilet menjadi singgahan pertama, selanjutnya yakni langsung menuju lantai lima dimana para tamu undangan berkumpul dan saling bertukar pikiran. Ia gunakan lift supaya tidak kelihatan ngos-ngosan karena sebelumnya sudah jalan melintasi lebih dari 7 negara bagian..dari Condongcatur sampe Bulaksumur, hanya dalam 30 menit. Beberapa peserta dan tamu sudah tampak berdiri di depan lift itu menunggu…dan menunggu. Naiklah mereka bertujuh di dalamnya sambil saling menyapa diantara sesama. Sesaat setelah pintu itu terbuka mata langsung mengarah ke meja hidangan untuk coffee break…rupanya disana sudah ada beberapa orang Eropa, Asia Timur, dan sebagian warga pelajar yang kebetulan nge-kos sekitar gedung Pasca yang lumayan gede itu. Beberapa tampak familiar sebagai aktivis, and laennya muka-muka asing yang keliatan cerdas dan segar pagi itu. Sambil tersenyum ketika berpapasan dengan bule pertama, diambillah cangkir kopi trus diisinya dengan krim dan gula. Bener-bener minuman yang dibutuhkan setelah tadi malam ronda nyelesaikan tulisan buat seseorang. Dia berpikir selera bule sama saja, kue lapis, klepon, atopun nagasari diembat juga…mungkin rada susah cari omelet, or sereal untuk serapan pagi mereka..musti lari ke hotal lagian musti keluar duit pula. Bagi mereka kaum intelek barat, tentu manajemen pengeluaran sangat mereka perhatikan, bahkan sampe semua nota dan slip jajan mereka simpan di dompet untuk kemudian mereka salin ke buku besar mereka. Sedikit aneh di negeri ini bahkan utang di warung ampe lupa, bahkan hebatnya berani ngutang lagi…hehe(we talk about him).

Try to find some relaxing spot sambil ngelemesin kaki yang lumayan pegel, tampak terlihat juga kawan-kawan kita terengah-engah, barangkali mereka juga habis menyeberangi 7 samudra demi ilmu yang berharga meninggalkan keluarga dan hewan peliharaan mereka.,,that’s cool. Sebenarnya dia sempet ngobrol ato lebih tepatnya berdiskusi soal-soal ilmiah begitu. But, sepertinya topik itu hanya hebat kalo dibicarakan dengan sesama mereka, dan mungkin malah terlihat aneh bagi kita hehe…But, yang jelas bahan diskusinya tak jauh dari kegelisahan para pemikir itu soal negeri ini yang penuh dengan permasalahan yang barangkali dengan ilmu dan pengetahuan mereka seharusnya bisa diselesaikan. Dan tentu ikhtiar itulah musti diapresiasi dengan wujud rekomendasi yang bisa sebagai pertimbangan bagi pemerintah pusat dan juga daerah terhadap kondisi dan permasalahan di wilayah ato yurisdiksi mereka…dan konteks pagi itu adalah National Maritime Development, tema besar itu akan dipecah dalam beberapa kluster, yang tentunya akan disesuaikan dengan bidang keahlian mereka masing-masing…dan membahas itu mah musti disokong energi dari makanan kecil yang disediakan panitia yang kalo dilihat dari bahan dasarnya sama sekali tak mencerminkan produk hasil laut nasional. Terlebih lagi..pemuda itu malah alergi sama yang namanya kepiting dan juga udang..wew..that’s absolutely weird. Anehnya, ia hanya alergi udang dan kepiting yang dijual murah…kalo yang mahal malah tak ada reaksi penolakan dari tubuhnya..benar-benar hidup ini indah.

Waktu menunjukkan pukul 8.00, setelah melakukan pendaftaran ulang, masuklah ia ke aula besar itu, dengan perasaan tenang karena tampak sekali lambung tengahnya sudah sedikit lebih menggembung dari sebelum dia datang. Sebanyak 300-an orang dari berbagai latar belakang mulai mencari posisi tempat duduk untuk kemudian menyiapkan hati dan pikiran plus juga niat..akan sungguh rugi kalo datang jauh-jauh namun tak diniati ibadah, tentu akan menjadi sebuah kesia-siaan. Sekilas terlihat ketegangan event organizer pagi itu karena pria bernama Fadel Muhammad akan juga maen ke situ, plus juga penguasa Jogjakarta, Ing Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X yang begitu dicintai rakyatnya. Protokoler dari kedua tokoh itupun mulai melakukan koordinasi dan memastikan semua aman. “sedikit aneh”, soalnya tak ada metal detector di pintu masuk ruang lobi tadi, cuman pengamanan standard yang biasa dijumpai seperti di hotel dengan receptionist yang selalu tersenyum ketika pengunjung datang. Tak lama ketegangan itupun sedikit mencair ketika mereka berdua beserta para stafnya datang dan memasuki hall pertemuan itu dengan senyum dan sedikit canda. Beberapa pejabat eselon yang sengaja diundang pun tampak menyalami mereka dengan berbagai harapan dan kepentingan yang bisa dilihat dari senyum mereka dan cara mereka menunduk. Rupanya dia sudah terbiasa dengan pemandangan semacam itu yang penuh kepura-puraan dan menjadikan itu terlihat membosankan. Setelah sekian menit kemudian, si pembawa acarapun memulai Prolog dengan bahasa formal nan sungguh membuat pemuda itu sedikit buka tutup kamus…Well, she used uncommon language he ever heard for the rest of his life…biasanya ngoko alus, sekarang musti sedikit mikir karena tak ada running teks di layar proyektor.

Ketika Sri Sultan membuka sebagai keynote speaker pada pertemuan itu, tampak kewibawaan dan kebesaran seorang Raja sungguh kental terasa pada pribadi beliau. Dengan tutur dan gaya bicaranya yang rapi yang telah dituliskan ke dalam teks yang ditandatangani Beliau. Wufft…respek dan salut kepada ing Ngarso Dalem. Meskipun pemuda itu berasal dari kerajaan yang berbeda, yang terkenal datar dan kurang ada dinamika sosial dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia…Itulah sebabnya Kuta lumpia terkenal damai, aman, tenteram, dan jauh dari yang namanya konflik..meskipun bagi beberapa orang terkesan membosankan. Saking sempurnanya tutur bahasa beliau yang mirip pendongeng yang sedang membahas permasalahan, potensi, serta tantangan dalam kacamata beliau seorang Raja sekaligus Gubernur DIY. Runtutan pidato beliau persis sama dengan bahan yang sebelumnya telah pemuda tersebut baca sebelum acara dimulai, bahkan sempat pula dia menggaris bawahi hal-hal yang menurutnya dipandang menarik dan perlu untuk didiskusikan. Boleh jadi karena gaya bicara beliau tersebut membuatnya mulai terkantuk-kantuk. Sungguh momen yang sedikit kurang pas mesti dihadapi dia saat mata mulai terasa berat, padahal saat itu masih pukul 8.14 pagi. Ketika orang-orang terpukau oleh sosok beliau, pemuda ini mulai terlelap, dengan posisi menunduk memang tampak dari jauh kelihatan sedang membaca…namun bila didekati tentu mengherankan di situasi formal nan langka tersebut, bisa-bisanya dia membebaskan ruhnya menuju dimensi yang berbeda. “Kenapa orang penting bicaranya selalu membosankan…” sedikit pemikiran yang muncul sepersekian detik ketika dia menemukan kembali kesadarannya. Namun, tampaknya Sri Sultan baru menyelesaikan 3 halaman dari total 8 halaman makalah yang beliau susun, dan menurut perhitungan ala ngawur si pemuda itu, ia masih punya sekitar 15 menit lagi untuk menyelesaikan eksplorasi bawah sadar dalam dunia mimpinya itu. Dan kelanjutan mimpi tersebut sejalan dengan pemikiran Sri Sultan mengenai romantisme lagu masa kecil yakni “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” yang seharusnya menjadi dorongan mimpi anak-anak untuk dibawa menuju kejayaan era maritim bangsa Indonesia.

Sungguh ini hanyalah permulaan diantara banyak pembicaraan yang lebih spesifik mengenai berbagai hal yang mereka bahas dalam diskusi selama beberapa hari. Namun, selama pemuda itu masih tidur seperti bayi agak sulit bagi seorang jeniuspun untuk menggali informasi atau sekedar mencari tahu motif kedatangannya kemari…Apakah sekedar numpang mandi? Atau pindah tempat untuk mencari inspirasi lewat dunia mimpi…hmmm. Wallahu alam.

To Be Continue in Talk About Ocean Part.2

(By: Anang Wid)



Ditulis Oleh : Penilai Artikel Hari: 5:26:00 AM Kategori:

0 comments: