Rahasia Indonesia vs Amerika (Bocoran Dokumen Rahasia Wikileaks)

Rahasia Besar Indonesia vs Amerika (Bocoran Dokumen Rahasia Wikileaks)

Wikileaks sedang jadi perbincangan hangat. Situs yang yang telah beberapa kali membuat kehebohan itu lagi-lagi merilis sejumlah dokumen rahasia. Kali ini, wikileaks.org mempublikasikan dokumen-dokumen kawat diplomatik yang bersumber dari 274 kedutaan besar Amerika Serikat di berbagai belahan dunia, termasuk dari Departemen Luar Negeri AS. Jumlah dokumennya ada 251,287 buah dan, hingga hari ini, yang dirilis belum sampai 300 dokumen.

Dalam pernyataannya di situsnya, Wikileaks mengaku sengaja mencicil publikasi dokumen itu, agar masing-masing tema mendapat perhatian publik yang memadai. Bila dilepas sekaligus, rahasia negara yang penting bisa terlewatkan dari perhatian.

Sejak Wikileaks merilis kawat-kawat rahasia itu, media sedunia berpesta pora memberitakannya. Berita-berita seksi bertaburan. Misalnya soal Belanda yang menyimpan nuklir titipan Amerika Serikat; Raja Arab Saudi meminta AS menyerang Iran; pendapat dan prediksi negarawan senior Singapura Lee Kwan Yew tentang Korea dan masa depannya; dan lain-lain. Tak kurang Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton kebakaran jenggot (meski tentu ia tak berjenggot), dan mengecam pembocoran dokumen-dokumen itu.

Julian Assange, pendiri Wikileaks, juga mulai diincar. Sebelum ini, dia pernah dicoba dijerat dengan tuduhan asusila.

REPUBLIKA.CO.ID,Pengadilan Tinggi Swedia telah menolak permohonan pendiri Wikileaks Julian Assange agar surat penangkapannya yang berhubungan dengan kasus perkosaan dicabut.

Kepolisian Swedia hari Kamis mengatakan, mereka akan mengeluarkan surat penangkapan baru untuk Assange, yang menggantikan surat sebelumnya yang dinyatakan tidak sah karena kesalahan prosedur.

Assange, yang telah menimbulkan kehebohan internasional karena membocorkan jutaan dokumen rahasia, sedang dicari untuk diinterogasi mengenai tuduhan perkosaan dan pelanggaran seks lainnya di Swedia. Mantan hacker komputer Australia itu belum kelihatan oleh umum selama sebulan dan diyakini sedang bersembunyi di sebuah tempat rahasia di Inggris tenggara.

Pengacaranya yang berbasis di London, Mark Stephens, mengatakan, baik pihak berwajib Inggris maupun Swedia mengetahui bagaimana menghubunginya.

Di Washington, sekelompok Senator Amerika hari Kamis mengajukan rancangan undang-undang yang hendak membuat ilegal penerbitan nama-nama informan yang bertugas dalam masyarakat intelijen dan militer Amerika.


Kemudian yang membuat situs Wikileaks itu goyah justru adalah serangan maya ke server mereka. "Serangan DDOS kini melebihi 10 gigabit per detik," demikian pernyataan Wikileaks di Twitter, Selasa (30/11) malam waktu Jakarta.

Serangan DDOS (distributed denial of service) adalah ketika server Wikileaks dibanjiri trafik dari berbagai arah, yang bertujuan menghabiskan sumber daya server sehingga situs Wikileaks tak bisa diakses. Siapa pelakunya, wah, tak jelas.

KOMPAS.com - WikiLeaks, situs penyingkap aib yang digawangi mantan wartawan Australia, Julian Assange, tak kehabisan akal untuk mengabarkan informasi yang umumnya rahasia soal laporan para duta besar Amerika Serikat di seluruh dunia.

Setelah digencet bertubi-tubi oleh pemerintah AS maupun korporasi besar dan hacktivist yang mengingkari kebebasan berbicara sesuai Amandemen Pertama Konstitusi AS, WikiLeaks kini pasang jurus baru.

Mereka kini memajang datanya di tiga domain sekaligus dan semuanya merujuk pada domain negara-negara di Eropa. Yakni, WikiLeaks.de (Jerman), WikiLeaks.fi (Finlandia) dan WikiLeaks.nl (Belanda).

Informasi ini disebarkan WikiLeaks melalui akun Twitternya, Sabtu (4/12/2010) waktu Indonesia. Akun WikiLeaks punya 344.714 follower, namun ia justru hanya mengikuti satu akun, yakni TweetBackup.

Sebelumnya, domain utama mereka adalah WikiLeaks.org, namun sudah dibungkam oleh penyedia layanan domain EveryDNS.net.

EveryDNS.net mengatakan, domain WikiLeaks.org menjadi sasaran "serangan yang menghalangi akses (DDoS)". "Serangan-serangan itu, dan juga serangan selanjutnya, akan mengancam stabilitas prasarana EveryDNS.net yang menyediakan akses bagi hampir 500.000 situs lainnya," kata penyedia domain tersebut.


Nah, lalu apakah ada dokumen rahasia terkait Indonesia yang dirilis Wikileaks?
Jawabannya: ada.


Kawat diplomatik yang berasal dari Kedutaan Besar AS di Jakarta jumlahnya total ada 3059 buah. Dokumen aman alias tak rahasia jumlahnya ada 1510 buah. Sisanya adalah dokumen rahasia, dengan kategori "confidential" 1451 buah, dan kategori "secret" ada 98 buah.

(ANTARA) - Pemerintah Indonesia terus memantau dan mempelajari isi dokumen rahasia pemerintah Amerika Serikat yang dibeberkan oleh laman "Wikileaks" karena beberapa di antaranya disebutkan terkait dengan Indonesia.

"Kita kumpulkan dulu, pelajari, sekarang tahap pengumpulan, ... dan mereka mengatakan ada kategori rahasia, ada kategori yang tidak rahasia dan juga ada yang agak sensitif. Kita kumpulkan dulu," kata Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, di Jakarta, Jumat, seusai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima CEO Forbes Media Steve Forbes.

Menurut Tifatul, hasil dari pengumpulan tersebut kemudian akan dilaporkan kepada tim khusus di bawah koordinator Menko Polhukam Djoko Suyanto.

Saat ditanya apakah Pemerintah Indonesia akan memberikan klarifikasi atas isi dokumen tersebut pada saatnya nanti, Tifatul mengatakan, "informasi (dalam Wikileaks) itu disimpan oleh Amerika Serikat dan dibobol Wikileaks. Belum tentu semuanya benar. Kalau tidak benar... kalau propaganda kita harus jawab `kan".

Namun, dia menjelaskan bahwa informasi yang dibeberkan dalam Wikileaks bukan informasi rahasia dan dokumen Indonesia melainkan rahasia Indonesia yang disimpan Amerika Serikat.

"Bukan rahasia negara (Indonesia). Katanya sumbernya Kedubes AS di Jakarta, bukan informasi Indonesia yang di Indonesia, tapi rahasia Indonesia yang disimpan AS. Ada sekitar 3.000-an item," katanya.

Sebelumnya, Menlu dan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring telah diperintahkan untuk memantau isi laman Wikileaks oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto.

Beberapa waktu terakhir beredar kabar bahwa Wikileaks akan membongkar memo-memo dari Kedubes AS yang menyoroti pertahanan di Indonesia, termasuk isu tentang Kopassus yang akan kembali bekerja sama dengan militer AS.

Pembocoran dokumen rahasia Amerika Serikat oleh Wikileaks terus mengundang perhatian media, terutama dari negara yang merasa dirugikan atas bocornya dokumen rahasia tersebut, bahkan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton dan Sekjen PBB Ban Ki-moon sempat membahas hal itu pada Rabu (1/12).

Keduanya membahas "kekacauan" yang disebabkan oleh pembocoran dokumen-dokumen rahasia Wikileaks yang menduga AS memata-matai pemimpin badan dunia itu secara rinci.

Laman Wikileaks telah menyebarkan sejumlah dokumen rahasia Amerika Serikat yang terkait dengan hubungan dengan sejumlah negara.

Akibat hal itu, lembaga polisi dunia atau Interpol menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap pendiri laman itu, Julian Assange (39).

Assange yang mantan peretas komputer kini menjadi pusat perhatian dunia setelah Wikileaks membocorkan ribuan pesan diplomatik rahasia AS di akhir pekan lalu.

Assenge yang lahir di Townsville, Queensland, bersembunyi sejak Wikileaks secara kontroversial menyebarkan lebih dari 250.000 dokumen rahasia milik Pemerintah AS.


Lalu kapan ribuan dokumen dari Kedutaan Besar AS di Jakarta dibuka, dan apa isinya? Mari kita tunggu cicilan dokumen dari Wikileaks.
Sejauh ini, dokumen yang menyebut Indonesia barulah yang "menyerempet" saja. Salah satunya adalah dokumen tentang seorang direktur di Departemen Pertahanan AS yang bertemu dengan asisten Menteri Luar Negeri AS, membicarakan situasi pascakunjungan Hillary Clinton ke Jakarta, 2009 lalu. Clinton sempat mengatakan AS mempertimbangkan menyediakan "payung pertahanan" bagi negara-negara Arab moderat untuk menghadapi nuklir Iran.

Dalam dokumen yang berasal dari Kedutaan Besar AS di Tel Aviv itu, berklasifikasi "secret", bertanggal 30 Juli 2009, pejabat Dephan AS agaknya sedikit mempermasalahkan pernyataan Hillary Clinton di Jakarta itu. Asisten Clinton lalu meluruskan, bahwa pernyataan bosnya bukan mengindikasikan perubahan kebijakan soal menghadapi Iran. Asisten itu juga menyalahkan para jurnalis peliput yang dianggap melebih-lebihkan pernyataan Clinton.


*****
Ref: dari berbagai sumber



Ditulis Oleh : Wahyu Winoto, S.Pd. Hari: 4:03:00 PM Kategori:

0 komentar: