MENILIK KEMBALI PEMIKIRAN HIRSCHMAN TERKAIT DENGAN DUKUNGAN PEMBANGUNAN DAN PERTUMBUHAN YANG TIDAK SEIMBANG

MENILIK KEMBALI PEMIKIRAN HIRSCHMAN TERKAIT DENGAN DUKUNGAN PEMBANGUNAN DAN PERTUMBUHAN YANG TIDAK SEIMBANG

(Wahyu Winoto)

A. PENDAHULUAN

Penting artinya untuk melihat kembali perintis dalam suatu bidang, kekayaan pemikirannya seringkali berkurang seperti halnya berkurangnya para ahli disebuah bidang yang dipelajari, atau dilatih. Setelah mencerna buku pelajaran dan menguasai dalam bidang tertentu kita tidak boleh hanya diam dengan publikasi terakhir, akan tetapi harus melakukan pengembangan diri mereka sendiri. Sebagai dampaknya, Hirschman berkata bahwa ahli teori maupun pembuat kebijakan praktis harus mengabaikan tekanan untuk menghasilkan sesuatu yang secara matematis konsisten dalam menganalisis permasalahan pembangunan. Dalam pembangunan ekonomi akan lebih baik diberi pelajaran untuk menilik kembali pemikiran Hirschman untuk meneliti jalur yang tidak diambil, kesempatan yang hilang, dan mendapatkan pengertian yang mendalam untuk menutup kesalahan/kekurangan dan pendapat yang belum dikaji oleh ahli dalam berbagai bidang.

B. JURNAL EKONOMI EASTERN

Tujuan dalam menilik kembali Hirschman adalah untuk melihat apakah isu baru yang ada dalam perdebatan saat ini, terkait dengan berbagai metode pendukung pembangunan. Sekarang ini perencanaan pembangunan secara resmi telah mati namun impian perekayasa sosial terhadap pembangunan ekonomi pada skala yang luas hidup dalam berbagai program agen-agen besar seperti Bank Dunia, IMF, bank-bank pembangunan wilayah dan program-program pengaturan struktural mereka, pinjaman proyek dan bantuan teknis atau program-program pelatihan.

C. PERDEBATAN MENGENAI PERTUMBUHAN YANG SEIMBANG

Tema ini dimulai oleh teori Adam Smith, yaitu bahwa bukti pembangunan yang ada sekarang yaitu membagi tenaga kerja dengan luasan pasar. Pendapat modern pada tema-tema ini dimuat dari dugaan Marshal terhadap ekonomi eksternal. Kemudian dalam literatur tentang pengembangan, tema-tema peningkatan keuntungan ditekankan oleh Rosenstein-Rodan [1943] dan Ragnar Nurkse [(1953) 1967] dalam konsep pertumbuhan yang seimbang. Saling ketergantungan dalam perekonomian diungkapkan dalam ide pertumbuhan yang seimbang, dan juga semakin berbobot dan kompleksnya isu yang diperdebatkan.

Hirschman sepakat dengan kewirausahaan dan menggeneralisir secara luas ide kewirausahaan sebagai pengaruh dari pembuatan kebijakan untuk memudahkan gerakan sumberdaya pembangunan yang seringkali tersebar dan tersembunyi dimana mekanisme pengaruhnya (lebih dari tindakan berdasarkan keyakinan) diberikan oleh jaringan yang sama atau saling ketergantungan yang ditekankan dalam literatur peningkatan keuntungan.

Kita tidak menolak pengertian ketidak-keterkaitan aktivitas ekonomi apapun dimana teori pertumbuhan yang seimbang telah banyak dibuat. Sebaliknya, kita bermaksud agar kita mengambil keutungan darinya, yaitu kita menyelidiki kedalam strukturnya yang memegang aktivitas yang saling terkait ini secara bersamaan. Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa pelajaran Hirschman tentang visi pertumbuhan yang tidak seimbang dari pembangunan telah diperhatikan secara baik oleh agen-agen pembangunan yang besar.

D. KONDISI-BERBASIS BANTUAN PEMBANGUNAN: DORONGAN BESAR YANG BARU

Dorongan besar telah dilahirkan kembali di beberapa dekade ini dalam bentuk kebijakan-berbasis pemberian pinjaman dan program pembangunan yang komprehensif lain yang ditambahkan untuk memberikan dorongan-besar kepada program perencanaan pembangunan. Angan-angan dari pembangunan masyarakat masih sangat banyak meskipun seringkali dalam bentuk yang tidak sama. Masalah mendasarnya adalah bukan apakah uang tersebut merupakan suatu pinjaman atau hadiah, namun modus operandinya diupayakan agar secara sosial perekayasaan mendalami perubahan sosial dan ekonomi.

E. PSIKOLOGI DAN AGENSI

Dalam permasalahan ketidakmampuan negara dalam perubahan kelembagaan, ada suatu masalah yang mendasar dalam hal psikologi dari model dukungan pembangunan ini. Karena kondisi yang menyeluruh-berbasis bantuan telah menjadi modus operandi yang dominan dari agen-agen pembangunan yang besar.

Dalam konteks bantuan, berbagai kebijakan yang bersifat kondisional biasanya tidak efektif. Jika berbagai kebijakan tidak diterapkan oleh pemerintah secara independen terhadap bantuan tersebut, berbagai kebijakan tersebut akan cenderung digunakan oleh pemerintah yang haus akan bantuan.

F. PROSES PERTUMBUHAN YANG TIDAK SEIMBANG

Kritik terhadap dukungan pembangunan yang konvensional menunjukan perhatian kita kembali ke beberapa tema peningkatan keuntungan dan literatur interdependensi ekonomi yang dipertimbangkan sebelumnya, tekanan dari dalam, atau masalah tekanan dalam suatu Negara sejalan dengan berbagai upaya yang telah berjalan untuk memetakan permasalahan. Cara terbaik untuk memastikan bahwa suatu proses reformasi memiliki beberapa motivasi dari dalam, dalam suatu Negara adalah tidak dengan memulainya namun menemukannya.

Tidak semua permasalahan bisa diselesaikan dalam sekali waktu, perhatian pertama kali difokuskan pada hal yang kecil; pada beragam sektor dan lokalitas dimana beberapa prakondisi berada dan dimana inisiatif dibangun dengan sendirinya. Keberhasilan kecil diawal kemudian akan menciptakan tekanan melalui jaringan kedepan dan kebelakang untuk membantu pembelajaran dan merubah yang terdekat di berbagai sektor dan lokasi – semua yang mungkin mengarah ke kutub pertumbuhan atau distrik industri setempat.

Banyak ahli ekonomi yang sebelumnya melihat visi Hirschman akan pertumbuhan yang tidak seimbang sebagai insentif atau getaran yang terkait dengan kemauan, namun teori tersebut juga memiliki sisi kognitif yang terkait dengan proses pembelajaran sosial. Salah satu analoginya tergambar pada proses pertumbuhan yang tidak seimbang, yang berjalan dalam pembelajaran secara individu. seperti mengambil foto statis dari kepercayaan seseorang sebelum dan sesudah mempelajari beberapa masalah subjek baru maupun kompleks yang saling terkait.

Hirschman menggunakan metafora penyelesaian teka-teki jigsaw untuk jenis pertumbuhan yang tidak seimbang dari berhadapan dengan sejumlah permasalahan dalam menghadapi sebuah Negara yang berkembang. Salah satunya bisa dibayangkan sebuah manusia super yang meletakan semua bagian secara bersamaan dalam satu waktu untuk menyelesaikan puzzle tersebut. Bahkan, jangankan para ahli yang telah melihat dan mempelajari puzzle yang tampaknya sama meletakan secara bersamaan dimanapun juga memiliki pengetahuan tersebut?. Yaitu fantasi yang nyaman dari orang yang mengunggulkan komprehensif, kesatuan, dan program reformasi yang seimbang. Lakukan semua hal ini secara bersamaan (sehingga akan tampak seperti gambar pada kotak puzzle) dan kamu akan menyelesaikan masalahmu!.

Untuk berbagai alasan yang disebutkan diatas, berbagai Negara tidak bisa hanya menyelesaikan permasalahan sekali waktu. Mereka harus memulainya dengan beberapa bagian yang sesuai secara bersamasama dan mencoba mengerjakan keluar untuk menemukan bagian lain yang sesuai. Tidak semua poin awalnya sama. Bagian-bagian tertentu dari puzzle tersebut mungkin memiliki hubungan yang dekat dan terkait yaitu memudahkan pembuatan bagian puzzle secara cepat - seperti yang berlawanan dengan beberapa bagian dimana penyelesaian bisa memberikan sedikit gambaran atau dorongan untuk menyelesaikan bagian yang dekat.

Kita juga bisa mempertimbangkan analogi tersebut dengan cara seorang usahawan mengembangkan suatu usaha. Keberhasilan di usaha pertama akan menciptakan kemacetan dan menekan bagian atas dan bawah yang perlu diselesaikan, seperti halnya berbagai kesempatan yang bisa ditangkap. Salah satunya mengarah ke yang lainnya dalam sebuah proses meraba yang revolusioner, pembelajaran yang adaptif, dan eksperimen. Setiap tahap digerakan oleh kebutuhan lokal untuk mengurangi tekanan atau mengambil kesempatan.

Jika pengembangan bisnis yang terkait dengan kewirausahaan terlalu penuh dengan ketidakpastian, kompleksitas, ketidakstabilan, dan pengetahuan yang tidak lengkap guna memberikan perencanaan teknokratis, kemudian salah satunya mungkin mengharapkan hal yang sama untuk dipegang bagi proses reformasi, perubahan dan pembangunan sosial yang lebih besar di sebuah Negara. Kesimpulannya, pembelajaran, percobaan dan pragmatisme dimana satu ukuran tidak selalu sesuai untuk semuanya – merupakan dasar bagis setiap alternatif model perintah dan kontrol pendampingan pembangunan.

Hirschman, sebagai pengamat tajam proses pembangunan, melihat keberhasilan berlangsung dalam cara yang berbeda dan ia merekomendasikan proyek-proyek pembangunan harus lebih mengikuti “rasionalitas tersembunyi” dibandingkan mimpi-mimpi rasionalitas teknokrasi yang dijamu oleh insinyur sosial.

Diperlukan inisiatif dan energi-energi lokal serta pengetahuan untuk penyelesaian masalah secara trial dan error. Namun setiap pemecahan masalah akan membawa permasalahan lain beserta peluang lain melalui kaitan ke depan maupun ke belakang. Perubahan membentang karena satu hal menuntun kepada hal lainnya, bukan karena suatu rencana rasional yang dapat diimplementasikan melalui tindakan yang terkoordinasi secara terpusat.

G. JEMBATAN KE PEMIKIR-PEMIKIR LAIN

Berdasarkan adanya sifat dasar multidisiplin dari pendekatan Hirschman, pengamatan singkat terhadap beberapa penghubung kepada pemikir-pemikir lain yang setidaknya dapat membantu mendekati gagasan-gagasan Hirschman dan menjelaskan karya-karya pemikir lainnya.

1. Teori Herbert Simon tentang Rasionalitas Terbatas

Salah satu kiasan generatif untuk karya Herbert Simon yaitu rasionalitas terbatas adalah maze [Simon, 1991, Bab 11]. Kita berada dalam maze, tidak melihatnya dari atas helikopter untuk mensurvei semua pilihan dari sudut pandang seorang pemain Olympiade. Seseorang tidak dapat melihat semua kemungkinan pada waktu orang lain, seseorang tidak mengetahui probabilitas hasil yang diberikan dari pilihan seseorang, dan seseorang tidak memiliki kapasitas komputasional untuk menentukan suatu hasil yang optimal bahkan bila ia memiliki informasi mengenai hal ini. Oleh karenanya, kapasitas kita untuk perilaku rasional sangatlah terbatas dalam banyak dimensi.

Saat Simon tidak secara langsung mengarah kepada permasalahan pembangunan ekonomi, karyanya telah merintis kritik terhadap pembuat-keputusan rasional secara substantif yang termanifestasi dalam model-model perencanaan, model-model dorongan besar, dan lebih umum lagi, dalam ambisi alasan teknokrasi. Suatu kontras dari berada dalam maze dibandingkan di atas maze merupakan suatu model mental yang berguna untuk menjelaskan dan membandingkan strategi-strategi pertumbuhan yang dalam kenyataannya tidak seimbang dengan mimpi-mimpi program pembangunan komprehensif.

2. Teori Inkrementalisme dan Muddlng Through (mengatasi) - Charles Lindblom

Ahli ekonomi seperti Jan Tinbergen [1956] cenderung melihat pembuatan kebijakan publik sebagai proses rasional teknokrastis komprehensif untuk mensurvei alternatif-alternatif yang memungkinkan, mengevaluasinya menurut tujuan atau fungsi kesejahteraan, dan memilih alternatif yang paling banyak dipilih. Persamaan antara proses inkremental muddling through Lindblom dalam pembuatan keputusan dengan teori Hirschman tentang pertumbuhan yang tidak seimbang – sangatlah berbenturan sehingga mereka menulis sebuah artikel bersama yang menunjuk kepada konvergensi tersebut. Kedua pendekatan tersebut skeptis terhadap urutan, keseimbangan dan pemrograman rinci berdasarkan tinjauan ke masa depan, pemusatan arah, dan ikhtisar terintegrasi.

Keduanya setuju bahwa sangatlah penting dibuat suatu peraturan dimana pembuat keputusan akan lebih peka dan bereaksi dengan segera dan untuk berimprovisasi dengan sigap dan secara imajinatif dapat melemahkan semangat dengan keasikan yang tidak semestinya, dan dalih sebagai akibat eliminasi lanjutan terhadap permasalahan ini dan kesulitan melalui “perencanaan terintegrasi.” [Hirschman dan Lindblom, 1969, 364]

Salah satu tema populer saat ini dalam badan pemberi bantuan adalah pendampingan pembangunan berbasis pengetahuan yang dapat dibayangkan sebagai badan yang memberi atau menyebarkan informasi solusi terhadap suatu permasalahan kepada negara berkembang. Namun Hirschman dan Lindblom setuju bahwa hal ini seringkali akan menghasilkan masalah yang lebih kompleks melalui kesalahan diagnosis dan ideologis” dan oleh karenanya mereka berpendapat bahwa semakin banyak fitnah pembelajaran sebagai suatu hal yang sulit dengan mengalami permasalahan pada jarak dekat dapat menjadi cara terbaik dan cara paling murah menuju solusi” [ibid, 364]. Saat konflik timbul, mereka melihat penyesuaian yang saling menguntungkan peserta sebagai pencapaian sejenis koordinasi yang tidak dapat diantisipasi atau direncanakan secara terpusat.

3. Visi Pembangunan Jane Jacob

Walaupun berjalan dengan baik di luar batasan-batasan studi profesional ekonomi yang dikenal sebagai Ilmu Ekonomi, karya Jane Jacob [1969; 1984] memberikan kontribusi kepada tradisi yang menenkankan peningkatan keuntungan, aglomerasi, dan diversifikasi. Seperti halnya ahli ekonomi profesional memberikan lebih banyak perhatian kepada peningkatan keuntungan yang sangat memusat kepada pembangunan (yaitu, pertumbuhan melebihi hasil peningkatan keuntungan), karyanya mendapatkan apresiasi yang jauh lebih baik. Ia datang dengan visi yang sama mengenai proses pertumbuhan yang tidak seimbang dengan berfokus pada perdagangan yang volatile antara kota-kota yang “berkembang pada bahu satu sama lain”.

4. Teori Donald Schon tentang Pembelajaran Sosial Terdesentralisasi

Walaupun tidak dikembangkan secara eksplisit sebagai teori pembelajaran, teori Hirschman tentang pertumbuhan yang tidak seimbang dapat dilihat sebagai teori pembelajaran sosial terdesentralisasi [Schon, 1941) dalam suatu cara yang akan mempengaruhi pembuatan keputusan, akan mengumpulkan dan melepaskan energi-energi lokal dorman, dan akan merangsang “kepemilikan” dalam diri pembelajar. Teori pembelajaran sosial di bagian dinas pembangunan yang rekan pendampingnya adalah pemerintah adalah bahwa pemerintah pusat membuat inovasi kebijakan – dengan bantuan penasihatnya- yang kemudian ditransmisikan ke seluruh negeri. [Pendekatan standar] memperlakukan pemerintah sebagai pusat, masyarakat sebagai pinggiran. Pusat memiliki tanggungjawab untuk membentuk kebijakan baru dan untuk pembebanan pada lokalitas di pinggiran. Pusat berupaya untuk “melatih” agen-agen di pinggiran.

5. Inventarisasi Jit Dan Sistem Perbaikan Secara Berkesinambungan

Sistem inventarisasi JIT bisa dilihat sebagai sebuah sistem pembelajaran produksi yang dinamis, tidak hanya sebuah sistem memotong biasa inventarisasi. Barang-barang inventaris dalam produksi bisa dianalogikan untuk pinjaman dari agen-agen pembangunan internasional yang mengijinkan salah satunya untuk diperoleh dengan berbagai kesulitan saat ini tanpa perlu menyelesaikan permasalahan yang mendasarinya. Namun dengan sistem JIT, biaya permasalahan tersebut adalah bukti dan perhatian yang kemudian difokuskan pada penyelsaian masalah sehingga hal ini tidak terjadi lagi. Hirschman memuji toleransi yang rendah terhadap kesalahan dan lintang yang sempit dari beberapa sistem teknis (sebagai contohnya, perawatan pesawat terbang atau permukaan jalan dimana perawatan yang rendah akan muncul seperti lubang dijalanan yang merusak) yang menjadi seperti rangsangan atau mekanisme langkah untuk menjaga dan mempelajari. Toleransi yang tinggi terhadap kesalahan atau garis yang lebar pada pemeliharaan akan berjalan seperti tingkat inventaris yang tinggi untuk membangunkan insentif bagi tindakan perbaikan.

6. Teori Charles Sabel terhadap Pembelajaran melalui Monitoring

Sisten inventarisasi JIT Jepang, penyelesaian masalah melalui tim setempat, pengujian antar tim dan perbaikan secara berkelanjutan bisa tampak seperti sebuah sistem pembelajaran yang sistematis dalam hal produksi yang mempengaruhi pengambilan kebijakan, penyelesaian permasalahan, dan kepemilikan oleh para partisipan. Charles Sabel [1994] telah mengembangkan contoh-contoh ini dan yang lainnya dalam teorinya tentang pembelajaran melalui monitoring. Saya telah menilik kembali pekerjaan awal dari Hirschman mengenai topik dukungan pembangunan dan pertumbuhan yang tidak seimbang. Tujuannya adalah dua:

- Pertama untuk melepaskan poin pertumbuhan yang tidak seimbang ke konsepsi bantuan pembangunan yang berbeda.

- Kedua untuk menguraikan jembatan antara pemikiran Hirschman dan pekerjaan para pemikir lain dengan harapan pemikiran dua jalan diatas jembatan tersebut.

TANGGAPAN

- Dalam bidang pembangunan ekonomi, Albert Hirschman mungkin merupakan salahsatu contoh seorang pemikir yang secara hati-hati menghindari model-model konvensional yang terjadi pada mahasiswa dan professor-professornya, yang terkadang menyebabkan terjadi kekecewaan sesudahnya.

- Salah satu pandangan baru pada visi pembangunan milik Hirschman, yaitu tidak hanya melihat melalui lensa ekonomi saja. Dalam bidang tertentu, pekerjaan dan pembelajaran yang kontinyu akan dapat membantu memudahkan dalam pemahaman dan solusi permasalahan bidang lainnya yang hampir sama.

- Untuk memetakan berbagai isu terkait dengan pemikiran Hirschman dalam pembangunan ekonomi, kita harus melihat kembali berbagai teori yang membawa pada ide dari dari sebuah dorongan besar untuk mendapatkan pertumbuhan yang seimbang.

- Dalam pertumbuhan yang tidak seimbang, sebenarnya dapat diminimalisir dengan mencoba untuk memperluas metode-metode kedalam reformasi kelembagaan, sehingga kondisi yang terkait dengan bantuan berbasis-kebijakan menjadi lebih komprehensif dan terintegrasi, karena agen-agen pembantu mengetahui permasalahan lembaga-lembaga tersebut.

- Otonomi yang terkait dengan bantuan bisa menghilangkan kesulitan. Bantuan seperti itu muncul dari latar belakang motivasi dan keinginan membantu agar menjadi lebih baik.

- Ancaman terhadap otonomi mempengaruhi berbagai hal. Dampak yang diperlihatkan adalah kinerja yang buruk dan usaha yang rendah, Hirschman menyebut berbagai dampak ini sebagai “Biaya yang tersembunyi” dari program bantuan. Sedangkan Lepper dan Greene [1978] menyebutnya “biaya penghargaan yang tersembunyi”.

- Dalam konteks bantuan, berbagai kebijakan bantuan yang bersifat kondisional biasanya tidak efektif. Jika berbagai kebijakan tidak diterapkan oleh pemerintah secara independen terhadap bantuan tersebut, berbagai kebijakan tersebut akan cenderung digunakan oleh pemerintah yang haus akan bantuan.

- Jika kita melihat kebaikan dalam pembangunan ekonomi, tidak hanya melalui perilaku, bantuan yang ada sebenarnya seolah-olah hanya seperti kebijakan yang salah. Bantuan seperti itu mendorong motiv kecenderungan untuk menerima bantuan, kurangnya kemandirian dan menimbulkan kurangnya kontrol otonomi.

- Hirschman di salah satu poinnya mengacu pada prinsip pertumbuhan yang tidak seimbang sebagai “ide memaksimalkan pembuatan keputusan yang dikontrol”.


Source : David Ellerman-Universitas California – Riverside.



Ditulis Oleh : Wahyu Winoto, S.Pd. Hari: 7:38:00 AM Kategori:

0 komentar: